Laman

GEMPITA

GEMPITA
Lomba Kelompencapir Minapolitan

Sabtu, 26 Juni 2010

Pengolahan Rumput Laut


PENGOLAHAN KARAGINAN

PENDAHULUAN

Pengembangan budidaya rumput laut terutama jenis Eucheuma telah banyak dilakukan di beberapa wilayah pantai Indonesia. Rumput laut jenis ini merupakan penghasil karaginan yang banyak digunakan sebagai bahan tambahan dalam industri makanan, minuman, farmasi, keramik, tekstil dan kosmetik. Meskipun demikian sebagian besar rumput laut di ekspor ke luar negeri. Hal ini karena di dalam negeri industri pengolah rumput laut menjadi karaginan atau karaginan semi murni belum banyak berkembang.

Pengolahan rumput laut menjadi karaginan semimurni sebenarnya sangat sederhana yaitu dengan cara merebus rumput laut ke dalam larutan alkali. Terdapat beberapa istilah untuk karaginanan semimurni, seperti S CR (semirefine karaginan) , ATC (alkali treated carageenophytes), AMF (alkali modified flour), SF (seawed flour) dan cotonii chips. Karaginan semimurni dapat digunakan sebagai stabilizer dan emulsifier pada industri makanan ternak. Disamping itu juga merupakan bahan baku untuk industri karaginan murni. sehingga dapat diperoleh karaginan yang mempunyai kekuatan gel serta rendemen yang tinggi. Karaginan murnii banyak digunakan sebagai bahan stabilisator, pengental, pembentuk, gel, pengikat dan pencegah kristalisasi dalam industri makanan dan minuman, farmasi kosmetik dll.
A. PENGOLAHAN RUMPUT LAUT MENJADI ATC
Bahan:
Bahan mentah yang digunakan pada pembuatan ATC ini lebih cocok rumput laut Jenis E. cottonii. Sedang bahan pembantu yang digunakan adalah KOH dan air.  

Peralatan:
- Peralatan untuk pencucian rumput laut  
- Peralatan untuk perebusan dan pemotongan  
- Peralatan untuk penjemuran dan penepungan
   

Prosedur Pengolahan ATC:
Rumput laut jenus Eucheuma cot(onhi segar atau kering direbus dalam larutan alkali. Jenis alkali yang digunakan adalah Kalium bidroksida (KOH), bahan ini digunakan untuk menaikkan titik lebur karaginan di atas suhu pemasakannya supaya tidak larut atau menjadi pasta.
Larutan alkali 8-9 % (80 - 90 g KOH dilarutkan dalam 1 liter air), dipanaskan hingga suhu 85 - 9OoC, kemudian rumput laut E. cottonhi dimasukkan dan direbus selama 2 jam. Setelah proses perebusan selesai rumput laut dicuci sampai netral (berulang ± 10 kali, sampai bau KOH hilang). Kemudian rumput laut dipotong-potong 2-3 cm dan dikeringkan sehingga diperoleh ATC berbentuk cottonii chips. Chips cottonii yang telah kering kemudian digiling sehingga diperoleh ATC yang berbentuk tepung.
Spesifikasi produk:  
Kenampakan : putih cream

Kimiawi dan Fisik :
     Air
:
8-12%
     Abu total  
:
17-23% 
     Abu tak larut asam
:
0.04 - 1 %
     Sulfat 
:
19-22% 
     3,6-Anhydrogalaktosa
:
28 - 32 %  

Kekentalan larutan tepung  
      karaginan 1,5 %   : 200 - 2700 Cps  
B.      PENGOLAHAN RUMPUT LAUT MENJADI KARAGINAN
Bahan dan peralatan:  
Bahan mentah : Bahan mentah yang digunakan dalam pengolahan im adalah E. cottonii atau E. spinosum.  
Bahan Pembantu : Natrium Hidroksida (NaOH) atau mengatur pH, Filter aid (Celite atau tanah diatomite) untuk membantu proses penyaringan. Natrium chlorida (NaCI) dan Isopropanol (IPA) untuk mengendapkan karaginan:
Peralatan:
- Peralatan untuk pencucian rumput laut
- Peralatan untuk perebusan
- Peralatan untuk penghancuran rumput laut
- Filter press untuk penyaringan
- Peralatan untuk pengendapan karaginan
- Oven untuk pengeringan.
Prosedur Pengolahan Karaginan  
1.      Pembersihan:
Rumput Laut yang akan diekstraksi dicuci dan dibersibkan dengan air untuk menghilangkan garam, pasir, karang, potongan tali dan rumput laut jenis lain yang tidak diinginkan.  
2.      Ekstraksi:
Rumput laut yang telah bersih kemudian direbus/ diekstraksi dalam air dengan volume 40-50 kali berat rumput laut kering. pH ekstraksi diatur menggunakan larutan NaOH sehingga diperoleh pH 8-9.Ekstraksi pertama dilakukan selama 30-60 menit pada suhu 85-95 oC. Rumput laut kemudian dihancurkan sehingga berbentuk bubur rumput laut. Ekstraksi kedua dilakukan selama 3 jam untuk E. spinosum dan 18 jam untuk E. cottonhi pada suhu dan pH yang sama seperti pada ekstraksi pertama.
  
3.      Penyaringan
Setelah proses ekstraksi selesai bubur rumput laut ditambah dengan filter aid (celite atau tanah diatomite) dengan konsentrasi 3-4 %. Penyaringan dengan menggunakan filter press, dalam keadaan panas untuk untuk memudahkanpenyaringan. Filterhasil penyaringan kemudian ditambah dengan larutan NaCl 10% (10 g NaCI dilarutkan dalam 100 ml air) sebanyak 5% dan volume larutan untuk membantu proses pengendapan. Filtrat karaginan kemudian dipanaskan hingga suhu mencapai 6OoC.  
4.      Pengendapan:  
Pengendapan karaginan dilakukan dengan cara menuangkan filtrat karaginan yang telah dipanaskan ke dalam larutan isopropil alkohol sambil diaduk-aduk selama 15 menit, sehingga terbentuk serat-serat karaginan. Perbandingan filtrat dan isopropil alkohol yang digunakan adalah 1: 2. Serat-serat karaginan yang diperoleh kemudian diperas dan direndam kembali dengan iso-prpyl al­kohol selama 30 menit sehingga diperoleh serat karaginan yang lebih kaku.  
5.      Pengeringan dan Penepungan:
Serat-serat karaginan kemudian dikeringkan dengan pengering hampa udara pada suhu 600C sampai kering, kemudian digiling sehingga diperoleh tepung karaginan.  
Spesifikasi Produk:
Karaginan yang diperoleh dan hasil pengolahan ini mempunyai spesiflkasi produk sebagai berikut:
Kenampakan : putih susu  
Kimiawi dan Fisik:  
     Air
:
8-12%
     AbuTotal
:
18-23%
     Abutakterlarutasam
:
1-2%
     Sulfat
:
18 - 24 % (E. cottonhi)

:
22 - 32 % (E. spinosum.)
                                        
Kekentalan larutan tepung  Karaginan 1,5 %   : 20 - 180 Cps
Sumber : Sub Balai Penelitian Perikanan Laut Slipi Jl. K.S. Tubun P.O Box 6230/11062 Telp. 5709157-158 Jakarta 11062



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar