Laman

GEMPITA

GEMPITA
Lomba Kelompencapir Minapolitan

Kamis, 02 September 2010

KAWIN SUNTIK IKAN LELE DUMBO


TEKNIK PERBENIHAN

PEMIJAHAN BUATAN PADA IKAN LELE DUMBO
(Clarias gariepinus)

OLEH: JOJO SUBAGJA
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar

1.   Pendahuluan


Pembenihan ikan lele dapat dilakukan dilahan-lahan terbatas dengan menggunakan kolam yang terbuat dari bahan yang sederhana, maupun di kolam tembok yang memanfaatkan akuarium maupun kolam tanah dalam pendederannya.
Umumnya induk-induk ikan lele mempunyai interval pengisian telur sekitar 2-2.5 bulan jika diberi pakan berupa pelet komersial, namun jika menggunakan pakan formulasi khusus buatan BRPBAT maka induk-induk ikan lele hanya memerlukan waktu sekitar 1 bulan untuk dapat terisi kembali gonadnya. Langkah-langkah teknis yang diperlukan dalam suatu pembenihan ikan lele adalah sebagai berikut: 

2.   Pengelolaan Induk

Kolam Induk

            Kolam induk dapat menggunakan kolam dengan dinding beton dan dasar dari tanah. Luasan 50 m2 dapat menampung induk 70 – 120 kg induk (jantan dan betina dipisah). Air masuk dapat  diatur dengan debit 4-7 l/menit. Kedalaman kolam 80 – 100 cm. Untuk merangsang pembentukan gonad pada musim kemarau dapat dilakukan dengan menurunkan dan menaikkan permukaan air kolam.

Syarat Induk

          Induk yang digunakan harus dalam keadaan sehat, tidak cacat, tidak ada tanda-tanda yang dapat menyebabkan terganggunya proses pembenihan dan kemungkinan terjadinya penurunan kualitas benih contohnya jangan gunaka induk yang bengkok, kelamin jantan pendek atau bengkok, banyak terdapat luka pada tubuh induk, atau berat induk tidak proporsional.
          Diusahakan agar induk tidak berasal dari satu keturunan. Induk pejantan bisa didapatkan dari daearah lain misalnya untuk induk betina dihasilkan dari proses seleksi di farm sendiri sedangkan pejantan didapatkan dari daerah yang jauh dari lokasi farm dan yakin induk yang digunakan tidak sedarah.
          Umur induk lebih dari 8 bulan untuk betina dan satu tahun untuk pejantan. Secara ideal induk betina mempunyai bobot 800 – 2000 gram, sedangkan induk jantan lebih dari 1000 gram atau minimal sama dengan berat induk betina.
          Induk di pelihara secara terpisah antara jantan dan betina. Induk betina pun dipisah berdasarkan tingkat kematangan gonad dan proses rotasi pemijahan sehingga diharapkan pada satu kelompok induk didapatkan induk dengan tingkat kematangan telur yang sama.

Pakan Dan Manajemen Pemberian Pakan

Pakan Induk menggunakan pakan khusus induk dengan jumlah pemberian   pakan sebanyak 2% dari total berat induk, diberikan 2-3 kali sehari. Berikut komposisi pakan induk lele :
Tabel 1. Komposisi pakan induk lele
No
Bahan pakan
Persentase (%)
1
Tepung ikan (protein min 60)
32
2
Bungkil kedelai (protein min 43)    
29
3
Terigu
10
4
Dedak halus
15
5
Vitamin
2
6
Mineral
1
7
Minyak ikan
2
8
Minyak jagung
2
9
Tapioka
7

Total
100

3.  Pematangan Gonad
·         Pematangan gonad lele dilakukan di kolam tanah, ikan hasil seleksi dari kolam calon induk. Caranya, siapkan kolam ukuran 50 m2 (lebih baik kolam indukan jumlahnya banyak dengan ukuran/luasan minimal, dari pada hanya 1 -2 kolam dengan ukuran luas); keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 60 – 100 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 25 ekor induk ukuran 0.82 kg; beri pakan tambahan berupa pellet tenggelam sebanyak 3 persen/hari, kadar minimal protein pelet 27%,  atau 1.8 -2% per hari dengan pellet berkadar protein 35%, sebaiknya induk jantan betina dipelihara secara terpisah.
Seleksi induk untuk dipijahkan
  • Pemanenan induk yang akan di pijahkan dapat menggunakan hapa hitam yang pada sisi bawahnya diberi pemberat rantai timah, ukuran hapa (panjang hapa bisa menutup luasan lebar kolam), setelah ikan terkumpul dalam hapa dilakukan penyeleksian.  Seleksi induk lele dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda induk betina yang matang gonad : perut gendut dan lunak; gerakan lamban dan lubang kelamin kemerahan. Metode yang efektif adalah dengan jalan mengambil sampel telur dari rongga ovarium dengan menggunakan alat kateter, telur yang terambil diamati warna dan diameternya, apabila ukuran diameter telur sudah seragam pada ukuran 1,0 -1.3 mm dan berwarna abu-kecoklatan,  induk tersebut sudah siap untuk dilakukan pemijahan. Tanda induk jantan matang kelamin: gerakan lincah, alat kelamin panjang berwarna kemerahan, hendaknya ukuran panjang papilla genetalia sudah mencapai sirip anal.
Pemberokan
·         Induk yang telah terseleksi untuk pemijahan hendaknya dilakukan pemberokan terlebih dahulu. Pemberokan induk lele dilakukan di bak selama semalam. Caranya, siapkan wadah ukuran 1x1 m kemudian isi dengan air bersih setinggi 40 – 50; masukan 5 – 8 ekor induk; cm dan biarkan mengalir selama pemberokan.
Catatan: Pemberokan bertujuan untuk membuang sisa pakan dalam tubuh dan mengurang kandungan lemak. Karena itu, selama pemberokan tidak diberi pakan tambahan. Ikan jantan dan betina hendaknya dilakukan pemberokan secara terpisah.
4.  Pemijahan.
Pemijahan ikan lele dumbo awalnya hanya dapat dilakukan melalui pemijahan buatan,  namun setelah ikan beradaptasi pada kondisi budidaya dan sudah domestikasi pemijahan secara semi buatan bahkan secara alamipun dapat dilakukan.  Adua metode pemijahan yang sudah biasa dilakukan pada saat sekarang yaitu: pemijahan semi alami dan pemijahan buatan. Pada pemijahan semi alami ikan lele di biarkan memijah secara alami namun sebelumnya indukan ikan tersebut dilakukan penyuntikan rangsang menggunakan hormon reproduksi.  Sedangkan pemijahan buatan setelah ikan disuntik rangsang dengan hormon reproduksi, penyatuan telur dan sperma dilakukan secara buatan oleh manusia.
    4.1. Pemijahan Semi Alami
     Pemijahan ikan lele dumbo awalnya belum bisa dilakukan secara semi alami atau alami seperti halnya ikan mas, tawes dan ikan budidaya lainnya, untuk proses pemijahannya masih harus menggunakan hormon perangsang pemijahan “Induced Spawning”, namun belakang ini teknik pemijahan secara semi alami sudah biasa dilakukan oleh pembenih ikan lele dumbo pada umumnya.  Adapun cara pemijahan semi alami adalah sebagai berikut.  Induk betina disuntik hormon gonadotropin + domporidon dengan dosis 0,5-0,8 ml / kg.  Induk betina disuntik dua kali dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian dari dosis total dan penyuntikan kedua 2/3 nya, Dosis hormon untuk induk jantan menggunakan ovaprim 0,3 ml/kg yang dilakukan bersamaan waktunya dengan penyuntikan ke dua ikan betina.
     Induk yang sudah disuntik dimasukkan kedalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan kakaban serta dilakukan penutupan bak pemijahan, agar indukan tidak loncat saat terjadi pemijahan.  Perbandingan jumlah ekor antara betina dengan jantan adalah 1:2 dengan masing-masing bobot ikan jantan hampir sama dengan ikan betinanya. Selama pemijahan air harus tetap mengalir. Pemijahan biasanya terjadi 6-8 jam setelah penyuntikan kedua. Esok paginya telur sudah menempel di atas kakaban, dan telur sudah siap di pindah untuk ditetaskan.
4.2.  Pemijahan Buatan
Pemijahan buatan berdasrkan teknik penggunakan hormon reproduksi bisa dibedakan atas dua teknik.
Penyuntikan dengan ovaprim
·         Penyuntikan adalah kegiatan memasukan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang umum digunakan adalah ovaprim. Caranya, tangkap induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,6-0,75 ml ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikan kebagian punggung induk tersebut; masukan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan dibiarkan selama 10 - 12 jam.
·         Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,25 ml/kg induk) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 0,5 ml/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,5 ml/kg induk jantan.
·         Pada proses penyuntikan dengan cara ini ikan jantan dan betina ditempatkan pada penampungan yang terpisah.
Penyuntikan dengan hypopisa
·         Penyuntikan bisa juga dengan larutan kelenjar hypopisa ikan sejenis atau ikan mas (donor unipersal).
Caranya, tangkap induk ikan mas jantan yang sudah matang gonad; siapkan 2 kg ikan mas ukuran 0,5 kg untuk setiap kilogran induk betina ikan donor; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutup insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat di bawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypopisa; masukan kelenjar hipofisa tersebut ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; kemudian lakukan pemusingan (sentrifuge) setelah beberapa saat pada tabung akan terpisah antara lapisan bening diatasnya dan endapan putih di bawahnya, sedot larutan hypopisa yang berwarna bening (lapisan atas) menggunakan spuit, kemudian suntikan ke bagian punggung induk lele betina; masukan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selam 10 – 12 jam. Untuk memastikan agar proses pemijahan dapat berhasil maka pada metode ini, ikan juga harus disuntik tambahan dengan menggukan HCG dengan dosis 500-1000 iu./kg bobot tubuh ikan.
·         Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,6 kg ikan mas/kg induk betina) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 1,4 kg ikan mas/kg induk betina).  Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,6 ml/kg induk jantan.
Pengambilan sperma
·         Pengambilan sperma dilakukan setengah jam sebelum pengeluaran telur. Caranya, tangkap 1 ekor induk jantan yang sudah matang kelamin; lap hingga kering; bungkus tubuh induk dengan handuk kecil; pijit ke arah lubang kelamin; tampung sperma ke dalam mangkuk plastik atau cangkir gelas; campurkan 200 cc Natrium Clhorida (larutan fisiologis atau inpus); aduk hingga homogen. Catatan : pengeluaran sperma dilakukan oleh dua orang. Satu orang yang memegang kepala dan memijit dan satu orang lagi memegang ekor dan mangkuk plastik. Jaga agar sperma tidak terkena air.
·         Pengambilan sperma agar lebih baik yaitu dengan jalan mengambil testis ikan lele jantan, teknik ini ikan jantan harus dimatikan.  Setelah ikan dimatikan dibelek bagian perutnya dan keluarkan testis, kemudian keringkan dan bersihkan dari percikan darah menggunakan tissue, kemudian testis di pototong potong dan diperas menggunakan kain atau saringan sperma yang keluar dari hasil perasan ditampung pada wadah gelas dan encerkan menggunakan NaCl fisiologis perbandingan yang optimum adalah 1:4 ( 1bagian sperma ditambah 4 bagian NaCl fisiologis), larutan sperma bisa disimpan dalam suhu penyimpanan 5oC agar bertahan lama.
Pengeluaran telur / Stripping
·         Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 – 12 jam setelah penyuntikan, namun 9 jam sebelumnya dilakukan pengecekan. Cara pengeluaran telur : siapkan 3 buah baskom plastik, sebotol Natrium chlorida (inpus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu; tangkap induk dengan sekup net; keringkan tubuh induk dengan handuk kecil atau lap; bungkus induk dengan handuk dan biarkan lubang telur terbuka; pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya; pijit bagian perut ke arah lubang telur oleh pemegang kepala; tampung telur dalam baskom plastik;
Fertilisasi
Fertilisasi: campurkan larutan sperma ke dalam telur (setiap 100 gram telur efektif dicampurkan larutan sperma 1 ml; aduk hingga rata dengan bulu ayam; tambahkan air bersih dan aduk hingga rata biarkan beberapa saat, member  kesempatan kepada spermatozoa untuk membuahi telur; setelah itu buang cairan/ buih sisa-sperma itu agar telur-telur bersih dan lakukan pembilasan dengan air bersih, lakukan 2 kali, setelah itu telur siap dipindahkan ke tempat  lain untuk ditetaskan (disebar merata di wadah penetasan).
5. Penetasan Telur
  • Pada pemijahan semi alami: Setelah memijah telur-telur yang menempel pada kakaban diambil dan dibilas dengan air bersih kemudian ditetaskan di lain bak yang sudah dipersiapkan, tapi pada umumnya yang dilakukan oleh para pembenih, memilih jalan lain yaitu memindahkan induk-induk dan mengembalikan induk tersebut kekolam pemeliharaan, kemudian mengganti air media dengan air bersih yang sudah siap, tanpa memindahkan  kakaban dari kolam pemijahan.  Kolam penetasan hendaknya dilengkapi dengan aerasi , untuk menghindari jamur Saprolegnia obat yang lazim di pakai adalah metileneblue, Telur-telur akan menetas dalam waktu 20- 28 jam.
  • Larva yang menetas biasanya akan mengumpul di bawah kakaban, dan pengangkatan kakaban dilakukan setelah 3-4 hari dari menetas. Selanjutnya adalah tahapan pemeliharaan larva dan benih.
GAMBAR:

Perbedaan ikan Lele dumbo jantan dan betina














Uro genetalia Betina
 





Konstruksi sederhana bak pemijahan
 
 

















































Text Box:

Text Box:
Kolam pemeleliharaan  Induk terpisah
 

PUSTAKA ACUAN


Estu Nugroho, Kiat berbisnis ikan Lele Dumbo.
Djajasewaka, H., Supriani dan W. Hidayat. 1988. Penggunaan silase ikan, tepung ikan dan campurannya dalam untuk pertumbuhan ikan lele lokal (C. batrachus). Bull. Penelitian Perikanan Darat, Vol. 7 No.1.
Hidayat, W., A. Priyadi, S. Koesoemadinata dan Sutrisno. 1993. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 192/1993. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar.
Insan, I., H. Mundriyanto dan Kusdiarti. 1992. Efek pemberian pakan alami dan pakan buatan pada tingkat umur berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih lele dumbo (C. gariepinus). Bull. Penelitian Perikanan Darat, Vol 11 No. 1.
Taukhid dan A. Rukyani. 1992. Penelitian penanggulangan penyakit ikan lele secara terpadu: aplikasi vaksin pada benih ikan lele dumbo (C. gariepinus) yang dipelihara dalam kolam irigasi versus kolam stagnant. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar. Balitkanwar.
Warta Pasar Ikan.2006. Lele kampung dari kampung lele. Direktorat Pemasaran Dalam Negeri. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar